Teamlibas.com : MERANTI — Laut kembali menagih korban. Sebuah kapal lintas batas asal Selatpanjang, Dua Bersaudara 89, yang hendak bertolak menuju Batu Pahat, Malaysia, dilaporkan tenggelam secara tragis di perairan Malaysia pada Selasa (21/10/2025). Insiden ini menggemparkan jalur transportasi internasional di perairan Riau–Malaysia.
Tak menunggu waktu lama, aparat Maritim Malaysia diterjunkan ke lokasi. Operasi penyelamatan dilakukan dalam kondisi laut yang tak bersahabat. Taruhan nyawa, detik demi detik, menjadi taruhan hidup mati lima awak kapal yang terombang-ambing di samudra.
Kepala Basarnas Pekanbaru, Budi Cahyadi, melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, mengonfirmasi tenggelamnya kapal milik seorang pengusaha asal Selatpanjang tersebut.
“Iya, benar. Kejadiannya di wilayah Malaysia. Tapi kami tetap berkoordinasi dengan Maritim Batu Pahat, Bakamla, TNI AL Selatpanjang, Basarnas Tanjung Balai Karimun, Syahbandar Selatpanjang, dan Pol Air,” tegas Prima.
LIMA AWAK SELAMAT – BERPEGANG PADA HIDUP DI ATAS LAUT YANG MURKA
Informasi dari MRCC (Maritime Rescue Coordination Centre) Putrajaya menyebutkan, kelima awak kapal yang memuat arang tersebut ditemukan terapung, basah kuyup, namun masih bernyawa. Mereka segera dievakuasi oleh Polis Marin Malaysia dan dibawa ke Jeti Kukup, Johor untuk penanganan lanjutan.
“Kapalnya karam, tapi seluruh awak selamat. Semoga kondisi mereka tetap stabil. Kami terus memantau dan berkomunikasi dengan pihak Maritim Malaysia,” tambah Prima.
PERTANYAAN BESAR: SIAPA BERTANGGUNG JAWAB?
Meski seluruh kru dinyatakan selamat, tenggelamnya kapal lintas batas ini memantik pertanyaan keras:
- Apakah kapal laik berlayar?
- Bagaimana prosedur keselamatan dan izin pelayaran lintas negara dijalankan?
- Adakah kelalaian, atau hanya cuaca menjadi biang musibah?
Hingga kini, belum ada keterangan resmi soal penyebab karamnya kapal. Koordinasi antarnegara masih berlangsung, namun publik menuntut jawaban pasti—jangan sampai tragedi ini berlalu tanpa evaluasi dan tanggung jawab.
Laut telah berbicara. Kini giliran aparat dan pemerintah memastikan tragedi serupa tidak kembali menelan korban.












