Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta Terlibat Insiden Tak Senonoh di Perpustakaan
Sebuah insiden yang menggegerkan terjadi di lingkungan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) baru-baru ini, melibatkan seorang mahasiswa berinisial ARM dan seorang pria luar kampus berinisial AW. Keduanya kepergok melakukan tindakan mesum di area perpustakaan PNJ, yang sontak viral di media sosial. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari pihak kampus dan mahasiswa, serta menimbulkan pertanyaan serius mengenai etika dan kedisiplinan di lingkungan pendidikan.
Kejadian bermula ketika rekaman video memperlihatkan dua orang pria melakukan ciuman mesra di perpustakaan PNJ beredar luas. Saksi mata, seorang mahasiswa PNJ berinisial R, menceritakan kronologi penangkapan tersebut. Menurutnya, kedua pelaku tertangkap basah di bagian belakang perpustakaan. “Yang satu anak PNJ, yang (gendut pakai kemeja biru) anak luar (bukan mahasiswa PNJ),” jelas R. Insiden ini terjadi pada hari Selasa, Juni 2026.
Setelah tertangkap, kedua terduga pelaku langsung digelandang oleh mahasiswa PNJ ke pos keamanan kampus untuk diinterogasi oleh dosen dan pihak rektorat. Di hadapan puluhan mahasiswa yang mengerumuni halaman kampus, kedua pelaku diminta untuk memberikan pengakuan.
Pengakuan Para Terduga Pelaku
Mahasiswa PNJ berinisial ARM, yang merupakan semester dua, akhirnya buka suara mengenai awal mula pertemuannya dengan AW. ARM mengaku mengenal AW melalui platform media sosial Twitter sekitar satu setengah bulan sebelum kejadian. Ia tidak menyangka AW akan datang ke kampusnya.
“Dengan dia yang hanya ingin mencari makan, saya kasih rekomendasi makan, kemudian tiba-tiba dia ada di sini, tanpa sepengetahuan saya. Dia mengirim foto kalau dia lagi di sini. Jadi ya udah kita titik temunya di sini,” ungkap ARM.
ARM mengakui bahwa dirinya terbawa suasana dan tanpa pikir panjang melakukan tindakan tersebut di perpustakaan, meskipun saat itu perpustakaan sedang ramai. “Dia ada rencana ingin eksplor kampus karena dia tidak berkuliah dengan mulai di perpustakaan. Di perpustakaan karena saya dengan bodohnya, saya menarik dia terlebih dahulu jadi terjadilah itu. Awalnya saya tidak memikirkan konsekuensinya. Saya tidak tahu kalau ruangan itu banyak sanksi,” tuturnya penuh penyesalan.
Sementara itu, AW, pria yang bukan merupakan mahasiswa PNJ, membenarkan perkenalannya dengan ARM melalui Twitter.
Permohonan Maaf dari Ayah Pelaku
Dalam momen menegangkan ketika kedua terduga pelaku dihadapkan pada puluhan mahasiswa dan dosen, ayah dari ARM hadir di lokasi. Dengan penuh rasa malu dan penyesalan, ayah ARM menyampaikan permohonan maafnya kepada institusi PNJ dan seluruh mahasiswa yang hadir.
“Saya mohon maaf, saya mohon maaf sama institusi yang hebat ini. Saya mohon maaf sama teman-teman semua. Malu saya,” ucapnya dengan suara bergetar.
Tidak hanya ucapan maaf, ayah ARM bahkan sampai bersujud di depan mahasiswa lain sebagai bentuk penyesalan mendalam atas kelakuan putranya. Ia mengungkapkan bahwa setiap hari ia selalu mengajak putranya ke masjid agar mendapatkan arahan yang benar.
Ayah ARM menyatakan kepasrahannya terhadap sanksi yang akan diberikan oleh pihak kampus. “Saya mengantar dia dengan kebanggaan. Dan hari ini saya benar-benar sangat malu. Kampus yang begitu membanggakan menjadi tidak bermakna lagi karena kelakuan anak saya ini. Jadi kalau misal pihak kampus mau men-DO dia, jangan ragu, kembalikan kepada kami untuk mendidik dia,” tegasnya.
Sikap Tegas Pihak Kampus
Menanggapi insiden yang viral dan menjadi sorotan publik, pihak Politeknik Negeri Jakarta melalui Humas PNJ, Soraya Aldina, akhirnya angkat bicara. Soraya membenarkan adanya kejadian tersebut dan menegaskan bahwa PNJ menentang keras tindakan asusila yang dilakukan oleh mahasiswanya, meskipun ia juga menekankan bahwa pihak kampus tetap menjaga hak privasi terduga pelaku.
“Perbuatan mesum mahasiswanya itu dengan rekan sesama jenis memang dilakukan di lingkungan kampus,” ujar Soraya. “Pihak PNJ menentang keras tindakan asusila yang dilakukan pelaku.”
Terkait sanksi yang akan diberikan, Soraya menjelaskan bahwa pihak PNJ masih akan mendalami kasus ini lebih lanjut sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun, ia tidak menutup kemungkinan bahwa sanksi terberat yang dapat dijatuhkan adalah pengeluaran dari kampus (Drop Out/DO).
“Sanksi paling berat itu tentu ada, bisa dikeluarkan, tapi untuk keputusan akhir kita akan telaah lagi aturan-aturannya seperti apa, yang bersangkutan itu memang pantas atau tidaknya untuk mendapatkan, itu kan kita harus telaah,” jelas Soraya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga etika dan moralitas, terutama di lingkungan pendidikan, serta menjadi pelajaran berharga bagi seluruh civitas akademika PNJ.











