Jejak Arsitektur Solidaritas: 20 Tahun Pascagempa, Bangunan Warisan Eko Prawoto Tetap Kokoh di Ngibikan
BANTUL – Ratusan pemuda dari berbagai latar belakang secara kompak menelusuri jejak arsitektur yang dibangun pascagempa bumi dahsyat pada tahun 2006 di Padukuhan Ngibikan. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu siang itu menjadi momen penting untuk mengenang dan memahami bagaimana bangunan-bangunan yang lahir dari semangat solidaritas sosial masyarakat mampu bertahan kokoh hingga kini, bahkan setelah dua dekade berlalu.
Para pemuda terlihat khidmat mendengarkan penjelasan dari anggota Yayasan Eko Agus Prawoto. Diskusi terfokus pada prinsip-prinsip arsitektur yang diterapkan, yang memungkinkan bangunan tersebut tidak hanya tetap berdiri kuat, tetapi juga terus dihuni dan berfungsi dengan baik oleh masyarakat setempat.
Maryono (65), salah seorang warga Ngibikan, berbagi kisah pilu mengenai tragedi gempa bumi yang terjadi dua dekade lalu. Ia menceritakan bagaimana rumah dan seluruh bangunan di sekitarnya rata dengan tanah akibat guncangan hebat. Saat itu, ia sedang berada di dalam rumah ketika gempa terjadi, dan seketika itu pula segalanya hancur.
“Pak Eko bilang kalau pagar rumahnya roboh dan meminta tolong untuk dibenahi. Terus, saya bilang ‘maaf, rumah dan tempat saya roboh semua’. Rumah yang berdiri hanya di tempat saya,” kenang Maryono, menggambarkan betapa parahnya kerusakan yang dialami.
Tak lama setelah gempa, arsitek kenalannya, Eko Agus Prawoto, datang untuk melihat kondisi warga. Ia terkejut mendapati begitu banyak bangunan yang roboh. Beberapa hari kemudian, Eko kembali dengan membawa kabar baik: ada bantuan dana kemanusiaan dari Kompas yang siap disalurkan untuk pembangunan kembali rumah-rumah warga.
Perhitungan pun dilakukan untuk menentukan jumlah unit rumah yang akan direhabilitasi. Total ada 65 unit rumah yang menjadi sasaran perbaikan, terdiri dari 50 unit di Ngibikan dan 15 unit di Banyu Dono.
Awalnya, biaya perbaikan satu unit rumah diperkirakan mencapai Rp20 juta. Namun, pihak donatur merasa keberatan dengan jumlah tersebut. Setelah penyesuaian, biaya diturunkan menjadi Rp8 juta per rumah. Namun, Eko Agus Prawoto memutuskan untuk menaikkan dana menjadi Rp10 juta per rumah, untuk memastikan kebutuhan makan dan keperluan lainnya selama proses pembangunan juga terpenuhi. Desain rumah sepenuhnya dikerjakan oleh Eko sendiri.
Semangat Gotong Royong Membangun Harapan
Proses pembangunan kembali rumah-rumah tersebut menjadi saksi bisu semangat gotong royong yang luar biasa dari warga Ngibikan. Mereka diajak untuk bahu-membahu, bahkan “dipaksa” untuk menjadi tukang, terlepas dari profesi awal mereka. Sementara itu, para ibu rumah tangga mengambil peran krusial di dapur umum, menyiapkan makanan untuk para pekerja.
Dalam kurun waktu tiga bulan, keajaiban terjadi. Sebanyak 65 unit rumah berhasil dibangun. Bangunan-bangunan ini awalnya dirancang hanya untuk bertahan selama lima tahun, namun kenyataannya, hingga kini, dua dekade kemudian, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan dihuni oleh masyarakat.
Rinawati Adhypranata, istri mendiang arsitek Eko Prawoto, mengungkapkan rasa bahagianya melihat bangunan karya suaminya masih kokoh dan menjadi tempat tinggal bagi masyarakat. Ia menuturkan bahwa suaminya berfokus pada desain, sementara pembangunan memanfaatkan bahan-bahan yang masih bisa digunakan.
“Kayu yang masih bisa dipakai, ya dipakai untuk membangun rumah. Kami ingin meminimalkan budget bangunan, jadi bisa memaksimalkan banyaknya rumah yang bisa dibangun,” jelas Rinawati.
Lebih lanjut, Rinawati menambahkan bahwa kegiatan susur Padukuhan Ngibikan yang diselenggarakan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai refleksi atas bencana gempa bumi, tetapi juga sebagai momentum untuk mengenang dan menghormati jasa Eko Agus Prawoto. Acara ini berdekatan dengan peringatan 1.000 hari kepergian Eko yang wafat pada tahun 2023.
Merajut Kembali Harapan Melalui Arsitektur dan Kearifan Lokal
Ketua Yayasan Eko Agus Prawoto, Krisna Tjahja, menegaskan bahwa kegiatan susur ini memiliki makna yang lebih dalam. Ini bukan sekadar menengok bangunan lama, tetapi sebuah ajakan kepada masyarakat untuk merajut kembali harapan melalui arsitektur yang dibangun atas dasar percakapan tulus dan kolaborasi.
Yayasan sengaja melibatkan generasi muda dalam kegiatan ini, dengan harapan mereka dapat menjaga dan meneruskan warisan berharga yang telah ada. Padukuhan Ngibikan sendiri telah menarik perhatian dunia karena dianggap sebagai salah satu lokasi dengan penanganan pascagempa tercepat di dunia.
Ironisnya, banyak warga yang terkadang tidak menyadari bahwa desa mereka memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang begitu penting hingga menarik perhatian internasional. Padahal, sekitar 80 persen dari puluhan bangunan yang dibangun pascagempa tahun 2006 masih dalam kondisi baik dan terus dihuni.
“Oleh Pak Eko dahulu, bangunan itu hanya dibangun sebagai selter sementara. Ternyata, selama 20 tahun ini masih kokoh, masih dipakai, dan para penghuninya enggan mengubah bentuk bangunan yang ada,” ujar Krisna.
Nindityo Adipurnomo, pemilik Cemeti Institute Art and Society, yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan pandangannya. Ia tidak lagi melihat bangunan karya Eko dan Maryono hanya dari sisi analisis fisik semata. Baginya, bangunan-bangunan ini adalah manifestasi dari ekspresi keterampilan dan kearifan lokal yang hidup di kalangan penghuninya.
“Yang paling penting menurut saya, bahwa ini adalah induk dari kearifan lokal. Rumah-rumah yang ada ini kan juga dibuat dari bahan lokal dan tenaga lokal atau warga asli itu sendiri. Nah ini yang menurut saya perlu diapresiasi,” pungkas Nindityo, menekankan pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai lokal yang terkandung dalam bangunan tersebut.













