Di tengah maraknya perbincangan mengenai gaya pengasuhan anak di media sosial, berbagai mitos dan pandangan tradisional masih kerap beredar di masyarakat. Salah satu mitos yang cukup umum diyakini adalah anggapan bahwa bayi yang terlalu sering digendong akan menjadi “bau tangan” atau memiliki kecenderungan untuk terus-menerus meminta digendong. Namun, pandangan ini dibantah oleh sejumlah pakar dan figur publik, termasuk aktris cantik Alyssa Daguise.
Melalui platform media sosial pribadinya, Alyssa Daguise dengan tegas menyuarakan pandangannya mengenai mitos “bau tangan” pada bayi. Istri dari Al Ghazali ini secara lugas membantah anggapan tersebut, menyatakan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Mitos “Bau Tangan” yang Tidak Berdasar
Alyssa Daguise mengemukakan pandangannya yang kritis terhadap kepercayaan yang masih bertahan di era digital ini. Ia secara spesifik menyebutkan bahwa di tahun 2026, masih saja ada pihak yang menyebarkan mitos “jangan sering digendong, nanti bau tangan”. Hal ini menurutnya sangat disayangkan mengingat minimnya bukti ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut.
“2026 masih ada aja yang bilang ‘jangan sering digendong, nanti bau tangan’. Padahal nggak ada bukti ilmiah yang mendukung itu,” tegas Alyssa. Pandangannya ini mencerminkan dorongan untuk lebih mengedepankan informasi berbasis sains dalam praktik pengasuhan anak.
Pentingnya Sentuhan Fisik dalam Tumbuh Kembang Bayi
Alyssa Daguise menekankan bahwa sentuhan fisik antara orang tua dan bayi memegang peranan krusial dalam mendukung tumbuh kembang anak, terutama pada periode awal kehidupan atau fase newborn. Ia berpendapat bahwa pelukan, sentuhan lembut, dan respons cepat dari orang tua merupakan fondasi penting dalam membangun rasa aman dan ikatan emosional yang kuat pada bayi.
Baginya, kedekatan fisik bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan fundamental bagi perkembangan psikologis dan emosional bayi. Sentuhan memberikan sinyal positif kepada bayi bahwa mereka dicintai, aman, dan diperhatikan.
“Justru sentuhan, pelukan & respons orang tua penting untuk perkembangan bayi, terutama di masa newborn. So please do ur research before typing and stating myths,” ungkapnya, mengajak para orang tua untuk melakukan riset mandiri sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Menikmati Momen Berharga Bersama Sang Buah Hati
Lebih lanjut, Alyssa Daguise mengungkapkan bahwa dirinya tidak ingin melewatkan momen-momen berharga bersama sang buah hati. Ia memandang masa bayi sebagai sebuah fase yang berlangsung sangat singkat. Oleh karena itu, ia bertekad untuk menikmati setiap kesempatan yang ada untuk menggendong dan memberikan kasih sayang secara langsung kepada anaknya.
Keinginan ini didorong oleh kesadaran akan cepatnya waktu berlalu dan betapa berharganya setiap interaksi fisik dengan bayi. “I’m gonna hold my kid as much as I can while I can bye,” tulisnya dengan penuh kasih sayang, menyiratkan komitmennya untuk memaksimalkan waktu kebersamaan dengan buah hatinya selagi masih bayi.
Kabar Bahagia: Prosesi Aqiqah Sang Buah Hati
Di samping berbagi pandangannya mengenai gaya pengasuhan, Alyssa Daguise juga membagikan kabar bahagia mengenai sang buah hati. Ia mengungkapkan bahwa buah hatinya yang bernama Soleil telah menjalani prosesi aqiqah.
Meskipun demikian, Alyssa dan keluarga memilih untuk tidak menggelar acara besar dalam merayakan momen spesial tersebut. Keputusan ini mencerminkan preferensi pribadi mereka untuk menjaga kesederhanaan.
“Btw Soleil udah aqiqah, Alhamdullilah tapi kita nggak bikin acara hehe,” katanya. Keputusan ini menunjukkan bahwa fokus utama mereka adalah pada pelaksanaan ibadah dan rasa syukur, tanpa perlu kemeriahan yang berlebihan.
Secara keseluruhan, pandangan Alyssa Daguise menyoroti pentingnya pendekatan pengasuhan yang berbasis bukti dan kasih sayang. Ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap mitos yang beredar dan mengutamakan interaksi positif serta sentuhan fisik yang mendukung tumbuh kembang optimal anak sejak dini.











