Penanganan Sampah Bandung: Fokus pada Solusi Konkret, Bukan Status Darurat
Permasalahan sampah di Kota Bandung menjadi sorotan tajam, mendorong Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk menekankan urgensi penanganan melalui langkah-langkah yang konkret dan efektif. Alih-alih terburu-buru menetapkan status darurat sampah, fokus utama saat ini adalah pada upaya mitigasi agar situasi tidak semakin memburuk. Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa penetapan status darurat yang prematur justru berpotensi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
“Status darurat sampah nanti kita lihat dulu. Jangan dibikin buru-buru darurat, nanti orang panik. Tetapi yang harus dilakukan bukan masalah daruratnya, melainkan langkah-langkah penanganan kedaruratannya dulu,” tegas Dedi Mulyadi pada Selasa, Juni 2026.
Ancaman Kapasitas TPA Sarimukti dan Upaya Mitigasi
Salah satu perhatian utama yang diungkapkan adalah mengenai kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Diperkirakan, TPA regional ini hanya mampu menampung sampah hingga sekitar enam bulan ke depan. Kondisi ini mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera menyiapkan berbagai strategi mitigasi guna mengurangi ketergantungan pada TPA Sarimukti yang semakin terbatas kapasitasnya.
“Sampah itu Sarimukti enam bulan ke depan sudah penuh. Karena itu kita harus menyiapkan langkah mitigasinya dari sekarang,” ujar Dedi Mulyadi.
Inovasi Teknologi Pengolahan Sampah di Tingkat Kelurahan
Sebagai solusi inovatif, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mempersiapkan pengadaan alat pengolahan sampah berskala kecil yang akan ditempatkan di tingkat kelurahan. Alat ini memiliki kapasitas sekitar lima ton sampah per hari dan telah berhasil diuji coba di lingkungan Gedung Sate. Hasil uji coba menunjukkan bahwa teknologi ini mampu mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang aman dan bermanfaat.
“Di Gedung Sate sudah ada alat yang mengubah sampah menjadi bahan bakar. Bahasa sederhananya menjadi briket. Kapasitasnya lima ton per hari dan uji cobanya sudah berhasil,” jelas Dedi Mulyadi.
Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan sampah langsung dari sumbernya, yaitu di lingkungan permukiman warga. Dengan demikian, volume sampah yang harus diangkut ke TPA dapat diminimalisir secara signifikan.
Kolaborasi Pembiayaan dan Jaminan Kepatuhan Lingkungan
Implementasi program pengadaan alat pengolahan sampah di kelurahan ini tidak akan sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dedi Mulyadi menyatakan akan segera berdiskusi dengan para wali kota untuk menentukan skema pembiayaan yang melibatkan pemerintah daerah. Kolaborasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan program dan distribusi beban anggaran yang merata.
“Nanti akan saya ajak bicara wali kota untuk menentukan pembiayaannya. Tidak mungkin semuanya ditanggung provinsi,” katanya.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi memastikan bahwa teknologi pengolahan sampah yang diusulkan ini tidak bertentangan dengan peraturan lingkungan yang berlaku. Prosesnya difokuskan pada konversi sampah menjadi produk bernilai, seperti briket yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri. Hal ini berbeda dengan pembakaran sampah secara terbuka yang dapat menimbulkan polusi udara dan dampak negatif lainnya terhadap lingkungan.
Dampak Libur Panjang dan Kebutuhan Dukungan Pemprov Jabar
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sempat mengungkapkan adanya lonjakan volume sampah yang signifikan di Kota Bandung. Lonjakan ini terjadi akibat peningkatan aktivitas masyarakat dan kedatangan wisatawan selama rangkaian libur panjang, mulai dari Lebaran hingga Iduladha.
“Selama musim liburan ini, mulai dari Lebaran sampai long weekend berturut-turut, beban terhadap daya dukung lingkungan luar biasa beratnya,” ujar Farhan usai peringatan Hari Lahir Pancasila pada Senin, 1 Juni 2026.
Kondisi tersebut, menurut Farhan, menunjukkan bahwa Kota Bandung memerlukan dukungan yang lebih besar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dukungan ini sangat krusial, terutama dalam hal pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti, yang kapasitasnya kian terbatas.
Dengan langkah-langkah penanganan yang terencana dan inovatif, seperti pengadaan alat pengolahan sampah di tingkat kelurahan, diharapkan persoalan sampah di Bandung dapat dikelola secara berkelanjutan. Selain itu, upaya ini juga bertujuan untuk mengurangi tekanan yang terus meningkat terhadap TPA Sarimukti, memastikan keberlangsungan operasionalnya dalam jangka waktu yang lebih panjang, dan menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Jawa Barat.









