Menemukan Kembali Manusia Indonesia yang Merdeka: Pelajaran dari Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer
Kemerdekaan: Lebih dari Sekadar Bebas dari Penjajahan
Konsep kemerdekaan seringkali disempitkan maknanya sebagai kondisi terbebas dari cengkeraman penjajahan bangsa asing. Sejarah bangsa Indonesia mencatat jejak para pahlawan yang berdiri tegak membela rakyat kecil di hadapan penindasan kolonial. Mereka adalah sosok-sosok yang berpikir kritis, berani bersuara, pantang tunduk pada kekuasaan, dan sulit diajak kompromi demi martabat bangsa. Mereka adalah corong kebenaran di tengah kebohongan penjajah. Dalam perjuangan itu, muncul beragam pendekatan, dari yang agresif-revolusioner hingga yang humanis-reflektif.
Saat ini, di era pasca-kolonial, citra manusia Indonesia yang merdeka justru semakin dibutuhkan. Namun, tantangannya berbeda. Bukan lagi melawan bangsa asing, melainkan melawan struktur kepemimpinan yang cenderung populis dan manipulatif. Penindasan modern tidak lagi berbentuk fisik, melainkan melalui praktik kekuasaan yang membungkam kritik, menebar ketakutan, memanfaatkan penderitaan rakyat demi kepentingan politik, serta mengontrol aspirasi publik dengan janji-janji populis yang jauh dari realitas. Inilah wajah penjajahan gaya baru yang perlu kita waspadai.
Politik masa kini kerap kali tidak lagi didasarkan pada gagasan dan argumentasi rasional, melainkan mengandalkan gimmick, kedekatan emosional, dan pencitraan untuk membangun legitimasi. Rakyat tidak lagi diajak berpikir kritis, melainkan lebih diarahkan untuk merasakan optimisme semu, kedekatan palsu, dan narasi sederhana yang dibangun oleh penguasa. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi berisiko berubah menjadi panggung pertunjukan politik, sementara persoalan-persoalan struktural yang krusial tersamarkan di balik euforia simbolik. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan sosok manusia Indonesia yang merdeka, yang mampu membongkar mentalitas bangsa di balik fenomena ini.
Dua tokoh besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, menawarkan pemikiran yang dapat menjadi teladan bagi kita dalam menemukan kembali manusia Indonesia yang merdeka.
Tan Malaka: Membebaskan Pikiran dari Belenggu Mistik
Tan Malaka, dengan nama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, adalah seorang revolusioner, pemikir, dan pejuang kemerdekaan yang mendedikasikan hidupnya untuk cita-cita Indonesia merdeka dan berdaulat. Ia dikenal sebagai tokoh yang berani menentang kolonialisme, rela hidup dalam pengasingan di berbagai negara, namun tetap setia memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat kecil.
Bagi Tan Malaka, hambatan terbesar menuju Indonesia Merdeka adalah alam pikiran bangsa Indonesia yang masih terbelenggu oleh logika mistika. Logika ini membuat masyarakat cenderung menerima nasib tanpa usaha, karena segala sesuatu dianggap telah ditentukan oleh kekuatan gaib. Tan Malaka berobsesi untuk membebaskan bangsa ini dari keterbelakangan yang disebabkan oleh cara berpikir ini. Ia berpandangan bahwa logika mistika adalah bentuk pemikiran yang stagnan, karena tidak membuka ruang untuk pertanyaan, eksperimen, atau pembuktian.
Menurutnya, logika mistika adalah warisan kolonial dan feodal yang sengaja dipelihara untuk melemahkan daya kritis rakyat. Akibatnya, masyarakat Indonesia cenderung berpikir pasrah, irasional, dan terlalu bergantung pada kekuatan di luar diri manusia. Padahal, kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan yang mereka alami adalah hasil dari sistem kolonial dan feodal yang menindas.
Pembebasan dari logika mistik dan gagasan yang didasarkan pada kekuatan gaib adalah krusial agar manusia Indonesia dapat berpikir kritis mengenai cara melawan penjajah, bukan terbuai pada romantisme yang tidak produktif. Dalam konteks inilah lahir karyanya yang monumental, Madilog. Buku ini menawarkan cara berpikir baru yang dapat menghapus logika mistika, yang terangkum dalam akronim judulnya: Ma-terialisme, Di-alektika, dan Lo-gika.
-
Materialisme:
Pemahaman ini menegaskan bahwa yang ada adalah materi, dan segala sesuatu berasal dari materi. Materi ada terlebih dahulu sebelum menentukan sebuah ide. Materialisme memandang realitas secara nyata dengan menggunakan ilmu pengetahuan, bukan mitos. Tan Malaka mengkritik orang Indonesia yang enggan bersikap kritis dan hanya menggantungkan diri pada agama atau kepercayaan yang menjanjikan kebahagiaan akhirat. Materialisme dalam Madilog berfungsi sebagai alat untuk membuka wawasan rakyat tentang kenyataan sosial objektif, sehingga mereka menyadari bahwa penindasan yang dialami bukanlah takdir, melainkan hasil dari sistem kolonial yang perlu diubah. Ia menolak pandangan idealis yang mengedepankan gagasan tanpa memperhatikan kondisi nyata masyarakat. -
Dialektika:
Metode berpikir ini menekankan bahwa perubahan sosial terjadi melalui proses kontradiksi antara elemen-elemen yang bertentangan. Setiap tahapan perubahan dimulai dari tesis (status quo), dihadapkan pada antitesis (oposisi atau konflik), hingga mencapai sintesis (penyelesaian konflik yang melahirkan tatanan baru). Tan Malaka memandang dialektika sebagai alat untuk memahami bahwa perubahan dalam masyarakat selalu terjadi melalui kontradiksi antara kelas penindas (penjajah) dan kelas tertindas (rakyat Indonesia). Dialektika membantu membangun kesadaran bahwa perubahan politik hanya mungkin terjadi jika rakyat sadar akan posisi dan hak mereka. -
Logika:
Logika digunakan untuk membentuk cara berpikir yang rasional, yang mampu menolak segala bentuk irasionalitas dan dogma yang dipaksakan oleh penjajah. Tan Malaka meyakini bahwa hanya dengan cara berpikir logis dan terstruktur, rakyat Indonesia dapat memahami dan melawan penjajahan. Logika menjadi pondasi penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis di kalangan rakyat, agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh ideologi kolonial yang menyesatkan.
Pramoedya Ananta Toer: Membebaskan Diri dari Mentalitas Terjajah
Tokoh kedua, Pramoedya Ananta Toer, menawarkan pendekatan yang cenderung humanis-reflektif. Jika Tan Malaka mendorong pergeseran dari logika mistik ke cara berpikir materialis, dialektis, dan logis, maka Pramoedya menekankan pentingnya membebaskan manusia Indonesia dari mentalitas bangsa terjajah yang tunduk pada kekuasaan. Mentalitas inilah yang menurut Pram telah meninabobokan daya kritis dan semangat juang untuk keluar dari penindasan.
Kritik Pram terhadap mentalitas ini dapat ditemukan dalam berbagai novelnya, salah satunya Bumi Manusia. Ia merefleksikan bahwa kecenderungan mengagungkan kekuasaan adalah hal yang biasa terjadi karena lahir dari sikap tunduk, rasa takut, dan silau terhadap kekuasaan, sehingga apapun yang dikehendaki penguasa diterima begitu saja.
Dalam Bumi Manusia, Pram menggambarkan kritik melalui tokoh Minke:
“Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula?”
Kutipan ini menunjukkan bagaimana budaya feodal membuat manusia kehilangan martabatnya di hadapan kekuasaan. Selain itu, tergambar pula rasa inferioritas bangsa pribumi di hadapan bangsa Eropa:
“Begitu berhadapan dengan seorang Eropa, orang-orang pribumi itu seakan kehilangan harga dirinya.”
Pramoedya memperlihatkan bagaimana kolonialisme membentuk mentalitas bangsa terjajah: silau terhadap kekuasaan, takut melawan, dan merasa diri lebih rendah. Namun, berhadapan dengan mentalitas buruk ini, Pram juga menawarkan perlawanan melalui tokoh Minke. Ketika dipaksa menghadap bupati dengan ritual merangkak dan menyembah, Minke merasakan penolakan dalam batinnya. Baginya, ini adalah bentuk penghinaan terhadap martabat manusia yang bertentangan dengan pendidikan modern yang ia terima.
Inti dari karya Pram adalah bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui kekerasan atau kebijakan politik semata, melainkan juga melalui pembentukan mentalitas masyarakat yang membuat rakyat terbiasa tunduk, mengagungkan penguasa, dan kehilangan keberanian untuk bersikap kritis.
Menelaah Populisme dan Krisis Manusia Indonesia yang Merdeka
Dari pemikiran Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, tampak jelas bahwa kemerdekaan manusia Indonesia tidak cukup dipahami hanya sebagai terbebas dari penjajahan fisik. Tan Malaka mengingatkan bahwa penjajahan juga bekerja melalui cara berpikir yang melumpuhkan daya kritis rakyat. Melalui Madilog, ia berupaya membebaskan manusia Indonesia dari logika mistika agar mampu melihat realitas sosial secara rasional dan memahami bahwa ketidakadilan adalah hasil dari struktur yang dapat diubah.
Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer membongkar warisan mentalitas feodal yang membuat rakyat terbiasa tunduk, takut, silau terhadap kekuasaan, dan kehilangan keberanian menjaga martabatnya. Jika Tan Malaka mengkritik ketidakmampuan rakyat membaca realitas secara rasional, Pramoedya mengkritik kebiasaan masyarakat yang terlalu mudah mengagungkan penguasa.
Dalam sintesis kedua pemikiran ini, manusia Indonesia yang merdeka adalah pribadi yang tidak mudah dikuasai oleh rasa takut, euforia, maupun simbol-simbol kekuasaan. Ia memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap realitas sosial, sekaligus menjaga martabatnya sebagai warga negara yang sadar akan hak dan kepentingannya. Dengan demikian, kita dapat kembali menemukan jati diri manusia Indonesia yang benar-benar merdeka.











