Melestarikan Jejak Sejarah: Kisah Rifko dan Rumah Batu Olak Kemang
Di tengah derasnya arus modernisasi yang mengubah lanskap perkotaan dan gaya hidup, semangat generasi muda untuk merawat dan memperkenalkan warisan sejarah daerah terus menyala. Salah satu sosok inspiratif yang patut disorot adalah Rifko Ashomuy, seorang pemuda berusia 25 tahun asal Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Rifko dengan gigih mendedikasikan dirinya untuk merawat dan mempromosikan Rumah Batu Olak Kemang, sebuah cagar budaya bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan peradaban di Jambi.
Rumah Batu Olak Kemang bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah jejak peninggalan yang erat kaitannya dengan tokoh penyebar agama Islam sekaligus seorang pedagang terkemuka di masanya, yaitu Pangeran Wirokusumo. Bangunan yang megah ini berdiri menghadap langsung ke Sungai Batanghari, sebuah sungai yang telah lama menjadi urat nadi kehidupan dan jalur perdagangan di Jambi. Keberadaannya sejak abad ke-18 menjadikan Rumah Batu Olak Kemang sebagai salah satu saksi paling otentik dari evolusi sejarah dan perkembangan peradaban masyarakat Jambi.
Keunikan arsitektur Rumah Batu Olak Kemang terletak pada perpaduan harmonis tiga unsur budaya yang berbeda, yakni Melayu, Tionghoa, dan Eropa. Rifko menjelaskan bahwa ciri khas bangunan ini sangat menonjol. Bagian atas rumah, yang awalnya dibangun dari kayu, mencerminkan gaya arsitektur Melayu tradisional. Struktur ini biasanya terdiri dari beberapa ruang kamar pribadi dan sebuah ruang pertemuan yang luas, dirancang untuk fungsi sosial dan keluarga.
Sementara itu, bagian bawah bangunan didominasi oleh struktur batu yang kokoh, mengadopsi gaya arsitektur Eropa. Penggunaan batu memberikan kesan kekuatan dan ketahanan, sekaligus menunjukkan pengaruh gaya bangunan Eropa yang mungkin dibawa oleh para pedagang atau penjelajah pada masa itu. Unsur budaya Tionghoa turut memperkaya estetika bangunan ini, terlihat jelas pada berbagai ornamen dan detail desain yang masih lestari hingga kini. Perpaduan ketiga elemen budaya ini tidak hanya menciptakan tampilan yang unik, tetapi juga memberikan nilai arsitektur yang sangat tinggi pada Rumah Batu Olak Kemang, menjadikannya sebuah mahakarya arsitektur yang merefleksikan keberagaman budaya di Jambi.
Bangunan bersejarah ini, yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-18, telah mendapatkan pengakuan resmi sebagai cagar budaya. Dinas Pariwisata Kota Jambi secara resmi menetapkannya pada tahun 2023, sebuah langkah penting dalam upaya pelestarian. Hingga saat ini, perawatan Rumah Batu Olak Kemang masih diemban oleh keluarga keturunan Pangeran Wirokusumo secara turun-temurun, sebuah tradisi yang menjaga keberlangsungan warisan ini dari generasi ke generasi.
Lebih dari Sekadar Situs Sejarah
Fungsi Rumah Batu Olak Kemang tidak terbatas pada nilai historisnya saja. Bangunan ini juga menjadi tujuan penting bagi masyarakat untuk berziarah. Terutama pada momen-momen tertentu, seperti peringatan haul tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di kawasan sekitarnya, rumah ini ramai dikunjungi oleh peziarah yang ingin mengenang dan mendoakan leluhur mereka. Keberadaan rumah ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini, menghubungkan generasi muda dengan akar sejarah dan spiritualitas mereka.
Namun, di balik semangat pelestarian yang membara, Rifko dan para penggiat budaya lainnya menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Tantangan terbesar, menurut Rifko, adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat luas tentang pentingnya menjaga warisan budaya seperti Rumah Batu Olak Kemang. “Tantangannya bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa bangunan ini adalah peninggalan sejarah yang penting dan harus dikenal oleh generasi sekarang maupun yang akan datang,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Selain isu kesadaran, kondisi fisik bangunan juga menjadi perhatian serius. Rifko menyuarakan keprihatinannya terhadap kerusakan yang terus terjadi pada Rumah Batu Olak Kemang. Faktor usia bangunan yang sudah ratusan tahun, ditambah lagi dengan ancaman bencana alam seperti banjir yang kerap melanda kawasan Danau Teluk, mempercepat proses degradasi bangunan ini. Upaya revitalisasi yang dilakukan hingga saat ini dirasa belum maksimal, belum mampu menghentikan laju kerusakan.
Rifko menekankan betapa krusialnya peran bangunan bersejarah seperti Rumah Batu Olak Kemang. Jika bangunan ini sampai hilang atau mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat diselamatkan, maka generasi mendatang akan kehilangan salah satu sumber pengetahuan paling berharga mengenai sejarah leluhur Jambi. “Kalau bangunan ini hilang, kita akan kehilangan sejarah. Generasi berikutnya tidak lagi bisa melihat dan mengenal peninggalan nenek moyangnya secara langsung,” tegasnya.
Oleh karena itu, Rifko menyampaikan harapan besar kepada pemerintah. Ia memohon agar pemerintah dapat segera mengambil tindakan nyata untuk melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap Rumah Batu Olak Kemang. Selain itu, pendokumentasian sejarah dan arsitektur bangunan ini secara detail juga sangat diperlukan. Pendokumentasian ini akan menjadi arsip penting yang dapat diwariskan dan dipelajari oleh generasi mendatang, memastikan bahwa kisah dan keunikan Rumah Batu Olak Kemang tidak akan pernah lekang oleh waktu.











