Insiden Peluru Nyasar Guncang Kampus UNP Padang
Kota Padang digegerkan oleh insiden peluru nyasar yang menimpa dua orang di area kampus Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, pada Selasa sore, Juni 2026. Korban adalah seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP berinisial N dan seorang warga sipil. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.30 WIB di alun-alun depan Rektorat UNP ini sontak membuat suasana hening berubah menjadi kepanikan. Kedua korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Sekretaris Universitas Negeri Padang, Erianjoni, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa salah satu korban adalah mahasiswi UNP yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di area rektorat. “Iya benar. Ada satu orang mahasiswa UNP yang menjadi korban. Saat kejadian mereka sedang berkumpul atau duduk-duduk di alun-alun depan rektorat,” ujar Erianjoni. Korban mahasiswi FIS ini dilaporkan terkena proyektil di bagian paha. Kondisinya dilaporkan sadar dan harus menjalani operasi untuk mengeluarkan proyektil yang bersarang di tubuhnya.
Selain mahasiswi tersebut, seorang warga sipil yang merupakan keluarga dari mahasiswa lain juga turut menjadi korban. Korban laki-laki ini mengalami luka di bagian tangan. Awalnya, kedua korban dibawa ke RS Hermina, namun ada rencana untuk memindahkan mereka ke Rumah Sakit Tentara demi perawatan lebih lanjut. Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan di lingkungan kampus dan perlunya investigasi mendalam untuk mengetahui sumber peluru nyasar tersebut.
Pesawat Militer AS Mendarat Darurat di BIM Akibat Kerusakan Mesin
Kemunculan pesawat militer Amerika Serikat jenis Lockheed C-130T Hercules di wilayah perairan barat Kota Padang sempat menarik perhatian dan menjadi perbincangan hangat di media sosial pada awal Juni 2026. Akun pemantau penerbangan melaporkan pesawat milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dengan kode panggil CONDOR5 terdeteksi melakukan penerbangan berputar di atas perairan barat Sumatera Barat. Berdasarkan data pelacakan penerbangan yang beredar, pesawat dengan registrasi 164762 itu terbang pada ketinggian sekitar 17.900 kaki.
Namun, pihak Bandara Internasional Minangkabau (BIM) segera memberikan klarifikasi bahwa aktivitas tersebut bukanlah operasi militer atau pengintaian, melainkan bagian dari uji terbang setelah pesawat mengalami kerusakan mesin. General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono, mengungkapkan bahwa pesawat tersebut melakukan pendaratan darurat di BIM pada Senin, 25 Mei 2026, pukul 17.56 WIB. BIM menerima laporan dari Menara Pengawas Colombo bahwa salah satu mesin pesawat mengalami gangguan, khususnya mesin nomor tiga yang mati. Sesuai dengan aturan penerbangan internasional, bandara tidak diperkenankan menolak pesawat yang dalam kondisi darurat.
Setelah mendarat dengan selamat, pesawat tersebut ditempatkan di hanggar Susi Air agar tidak mengganggu operasional penerbangan komersial. Sejak informasi pendaratan darurat diterima, pihak bandara segera berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk TNI Angkatan Udara, Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina. Sebanyak 16 personel Angkatan Laut Amerika Serikat yang berada di dalam pesawat menjalani prosedur keimigrasian sesuai ketentuan, dengan dokumen yang lengkap termasuk diplomatic clearance. Selama berada di Padang, para personel menginap di hotel dan mendapatkan pengawasan keamanan. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta juga mengeluarkan surat jaminan selama proses menunggu kedatangan suku cadang pengganti.
Kerusakan yang terjadi hanya pada salah satu komponen penting mesin nomor tiga, bukan penggantian mesin secara keseluruhan. Karena bertepatan dengan hari libur di Amerika Serikat, proses pengadaan suku cadang sempat mengalami kendala. Suku cadang tersebut akhirnya tiba di Padang melalui penerbangan komersial dari Singapura pada Minggu, 31 Mei 2026. Tim teknisi kemudian melakukan pemasangan dan perbaikan hingga malam hari. Setelah suku cadang terpasang, dilakukan prosedur pengujian mesin (run up) selama satu hingga dua jam. Hasil yang baik kemudian dilanjutkan dengan uji terbang. Dony Subardono menjelaskan bahwa rute uji terbang sengaja diarahkan ke wilayah perairan barat Sumatera Barat, yang telah dikoordinasikan dengan otoritas penerbangan dan unsur TNI untuk memastikan keamanan serta menghindari area instalasi strategis. Pola penerbangan berputar yang terlihat di radar merupakan bagian dari uji terbang tersebut.
Komandan Lanud Sutan Sjahrir Padang, Kolonel Nav Wahyu Bintoro, menegaskan bahwa pesawat milik US Navy tersebut tidak melakukan aktivitas pengintaian. Ia mengkonfirmasi bahwa penerbangan yang terpantau merupakan bagian dari prosedur pengujian pascaperbaikan. “Pesawat sebelumnya melakukan emergency landing di Padang. Setelah suku cadang datang dan dipasang, dilakukan test flight di area yang sudah ditentukan. Setelah clear, pesawat kembali mendarat di BIM,” ujarnya. Wahyu memastikan bahwa seluruh proses perizinan dan pengawasan berada dalam kendali otoritas Indonesia, sehingga tidak ada masalah terkait pengintaian. Saat ini, pesawat dan personelnya masih berada di Padang sambil menunggu penerbitan flight clearance dan security clearance untuk melanjutkan penerbangan.
Pelatihan Teknisi AC Beri Harapan Baru Mantan Napiter untuk Reintegrasi Sosial
Program pelatihan teknisi AC yang diselenggarakan oleh Densus 88 Antiteror Polri bekerja sama dengan PT Astra International Tbk telah mendapatkan respons positif yang luar biasa dari para mantan narapidana terorisme (napiter) yang menjadi peserta. Pelatihan ini tidak hanya membekali mereka dengan keterampilan baru yang berharga, tetapi juga membuka peluang signifikan untuk membangun usaha mandiri dan memfasilitasi reintegrasi sosial mereka ke tengah masyarakat.
Salah seorang peserta, Muhammad Rofik (39) asal Jambi, mengungkapkan bahwa ia mengikuti pelatihan ini dengan harapan dapat menambah keterampilannya sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Saat ini, Rofik menjalani berbagai pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari menjadi ojek online hingga berjualan bakso tusuk. “Makanya saya tertarik ikut pelatihan ini agar bisa punya usaha mandiri,” ujarnya. Ia memiliki impian besar untuk mengembangkan usaha di bidang servis dan perawatan AC, serta membuka lapangan kerja bagi orang lain jika usahanya berhasil. Rofik mengaku telah kembali ke masyarakat sejak Mei 2025, dan tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membangun kembali kehidupan sosial dan ekonomi. Meski mencari pekerjaan tidak selalu mudah, ia bersyukur penerimaan masyarakat di daerahnya berjalan baik berkat bantuan Densus 88 dan perangkat desa yang menjembatani komunikasi. Rofik menilai pelatihan teknisi AC ini sangat berharga karena sesuai dengan minatnya di bidang elektronik, di mana ia sebelumnya belajar secara otodidak memperbaiki berbagai perangkat elektronik.
Pengalaman serupa dirasakan oleh alumni pelatihan tahun sebelumnya, Zulkhadri Hasan (40). Ia mengikuti pelatihan serupa pada Juni 2025 di Palembang dan merasakan langsung manfaat program ini. Menurut Zulkhadri, pelatihan ini memberikan pengetahuan baru bagi peserta yang sebelumnya tidak memiliki dasar di bidang elektronika atau pendingin ruangan. “Hasil pelatihan ini luar biasa. Kita yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang elektronik dan AC jadi mendapatkan ilmu dan keterampilan baru. Selain itu juga menambah relasi dan peluang pemasukan untuk keluarga,” katanya. Setelah menyelesaikan pelatihan, Zulkhadri berhasil merintis usaha jasa servis AC secara mandiri. Pendapatan tambahan dari usaha ini sangat membantu kebutuhan keluarganya, meskipun pekerjaan tidak selalu ada setiap hari. Ia juga mengapresiasi dukungan yang diberikan pemerintah dan berbagai pihak terkait, termasuk bantuan peralatan kerja yang meminimalkan modal awal. Zulkhadri menekankan bahwa modal utama adalah kemauan untuk belajar, dan dukungan pasca-pelatihan serta pengawasan membuatnya lebih percaya diri dalam menjalankan usaha.
Kegiatan pelatihan teknisi AC ini diikuti oleh 29 peserta yang terdiri dari mantan napiter, mantan jaringan terorisme, serta perwakilan organisasi keagamaan dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, dan Riau. Pelatihan berlangsung selama lima hari, dari 2 hingga 6 Juni 2026, di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang. Ini merupakan pelaksanaan ketujuh dari program serupa yang sebelumnya telah digelar di berbagai kota. Program ini merupakan bagian integral dari upaya deradikalisasi melalui pendekatan kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi. Dengan peningkatan keterampilan dan kemandirian ekonomi, para peserta diharapkan mampu membangun kehidupan yang lebih baik, diterima kembali oleh lingkungan sosial, serta berkontribusi positif bagi masyarakat.











