PULAU BURU, Yutelnews.com | Gunung Botak bukan sekadar bukit batu bagi rakyat kecil di Pulau Buru-ini adalah satu-satunya urat nadi kehidupan, sumber darah dan daging yang menopang masa depan anak, kehormatan adat, dan keluarga yang dibangun pakai keringat sendiri. Namun penutupan kawasan ini memutus jalan hidup secara paksa, membiarkan kami terkatung-katung tanpa arah, teriak tanpa didengar. Selasa, 11/8/2026.
Ibu Sahala Latbual, tokoh masyarakat adat mewakili suara tertindas, bicara tegas tanpa ragu.
“Dampak Gunung Botak bagi katong sangat besar. Katong rakyat kecil ini cuma bisa minta satu hal. kembalikan hak kami! Biarkan tempat ini berjalan seperti biasa supaya katong bisa kerja tenang seng ada ganguan. Dari sanalah katong sanggup biayai anak sekolah sampai kuliah, siap uang nikah buat katong pung anak anak, serta jaga harta dan kehormatan adat leluhur-segalanya tergantung di sana.
Sebagai ibu tangguh yang berjuang sendirian tanpa suami, ia buka kisah pahit namun teguh.
“Sempat beta cemas sekali memikirkan biaya nikah beta pung anak. Tapi syukur alhamdulillah, saat katong datang penuh rendah hati dan urus semuanya dengan sopan, keluarga perempuan terima dengan baik. Dong tidak minta berlebihan, dong paham keadaan katong. Beta berjuang sendiri besarkan dan didik anak sampai hari ini tiba, melangkah ke pelaminan-semua berkat hasil bumi Gunung Botak.
Sisa simpanan sebelum kawasan disisir dan ditutup kemarin jadi satu-satunya penolong.
“Terima kasih buat keluarga dan kerabat yang beri semangat. Sedikit rezeki tersimpan dari sana cukup buat biaya hidup dan nikah anak. Itulah sisa berkah yang menolong katong sekarang, saat jalan lain tertutup rapat.
Dengan lantang dan penuh ketegasan, ia layangkan tuntutan berlandaskan hak asal-usul.
“Ini harapan kami yang keras. Tolonglah Pemerintah dengar jeritan katong! Jangan biarkan rakyat kecil melayang tanpa harapan. Kembalikan hak kami berusaha di Gunung Botak seperti dulu! Biarkan katong nafkahi keluarga sendiri, jaga adat, dan sekolahkan anak-anak kami-jangan biarkan masa depan kami dirampas begitu saja. Kami orang adat yang sudah diberi wasiat di tanah ini. Kami ada sebelum negara ini terbentuk! Pulau Buru bukan pulau kosong-ini pulau bertuan, moyang kami sudah ada di sini sejak dulu kala. Berikan Gunung Botak untuk kami kelola, jangan rampas hak ini dari tangan kami!”
Suara ini bukan sekadar permohonan, melainkan teguran jujur dan peringatan keras dari mereka yang ingin hidup bermartabat di tanah leluhur sendiri.
Korwil,m,(Ld rama,).













