Teamlibas.com – Polemik dugaan aksi premanisme di sebuah sekolah swasta, Djuwita Playgroup, kawasan Lubuk Baja, Kota Batam, Kepulauan Riau, mulai menemui titik terang meski masih menyisakan tanda tanya.
Seorang orang tua siswa membantah keras tuduhan bahwa dirinya bersama sejumlah pria telah melakukan intimidasi terhadap tiga guru di sekolah tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa, 21 April 2026 sekitar pukul 13.45 WIB itu, menurut pengakuan Sri Suryati (41 tahun), bukanlah aksi premanisme. Ia menjelaskan, kedatangannya ke sekolah justru dalam rangka pertemuan internal dan mediasi.
Baca juga: Awal Mula Terbongkar: Prajurit TNI Terkena Cipratan Air Keras Sendiri, Absen Apel hingga Terungkap Kasus Andrie
“Kehadiran kami di sana bukan untuk melakukan intimidasi atau premanisme. Itu bagian dari pertemuan internal dengan karyawan saya,” ujar Sri kepada batamnews.co.id pada Rabu, 29 April 2026.
Menurut tutur Sri, pada pagi harinya sekitar pukul 09.00 WIB, ia memang telah menjadwalkan pertemuan dengan sejumlah karyawan di kawasan Bengkong, Batam. Agenda saat itu murni membahas operasional usaha, termasuk soal gudang dan kafe.
“Setelah itu, saya berencana melanjutkan rapat ke kantor di dekat BCS. Namun, saya sempat berbelok arah dan diikuti beberapa karyawan,” jelasnya, mencoba meluruskan kronologi kedatangannya ke lokasi sekolah.
Sri Suryati tiba di sekolah tersebut dengan satu tujuan utama: meminta klarifikasi terkait dugaan kekerasan yang dialami oleh anaknya sendiri. Ia merasa tidak memiliki bukti visual awal sehingga membutuhkan dokumentasi dari pihak sekolah untuk mengidentifikasi oknum guru yang diduga terlibat.
“Saya datang untuk meminta klarifikasi dan dokumentasi. Karena sebelumnya saya tidak memiliki data atau bukti visual terkait dugaan tersebut,” katanya.
Menghadapi tuduhan premanisme dan intimidasi, Sri bersikukuh bahwa situasi di lapangan tidak separah yang diberitakan. Ia menantang publik untuk melihat rekaman CCTV secara utuh.
“Kalau memang ada premanisme, seharusnya sejak awal sudah terjadi tindakan anarkis. Faktanya, saya duduk dan berdiskusi, dan orang-orang yang bersama saya juga tidak melakukan kekerasan,” tegasnya.
Sri mengakui memang ada reaksi emosional dari beberapa karyawan yang ikut hadir. Namun, ia menilai hal itu sebagai respons wajar atas dugaan perlakuan tidak layak terhadap anak-anak. Ia memastikan tidak ada pemukulan, perusakan, ataupun ancaman dalam pertemuan tersebut.
“Reaksi emosional itu manusiawi. Tapi tidak ada pemukulan, perusakan, ataupun ancaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sri menyampaikan kekecewaannya kepada pihak sekolah. Ia menilai manajemen Djuwita Playgroup belum memberikan kejelasan dan bukti yang memadai terkait dugaan kekerasan terhadap anaknya.
“Saya kecewa karena tidak ada kejelasan dan bukti yang diberikan pihak sekolah. Saya akan menempuh jalur hukum agar mendapatkan keadilan,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, awak media yang mendatangi sekolah tersebut belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak manajemen Djuwita Playgroup terkait insiden dan bantahan ini.
Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian, mengonfirmasi bahwa laporan terkait dugaan premanisme ini memang telah masuk dan tengah dalam proses penyelidikan.
“Perkara ini saat ini ditangani oleh Satreskrim Polresta Barelang. Sudah ada 5 orang saksi yang dilakukan pemeriksaan,” kata Kompol Debby singkat saat dikonfirmasi.
Informasi yang dihimpun bahwa keluarga orangtua siswa akan menempuh jalur hukum atas fitnah kepada karyawan tersebut. /* Sumber Batamnews













