IRT Mina Puadi: Korban Ke-6 Ledakan Bom PD II Biak

Korban Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Bertambah, Total 6 Meninggal Dunia

Insiden tragis kembali merenggut nyawa di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Ledakan bom aktif yang diduga merupakan peninggalan Perang Dunia II di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, telah menambah daftar korban jiwa. Kali ini, seorang ibu rumah tangga bernama Mina Puadi (51) dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Biak.

Sebelumnya, ledakan yang terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026, telah merenggut lima nyawa. Meninggalnya Mina Puadi pada Selasa, Juni 2026, menjadikan total korban tewas mencapai enam orang. Berdasarkan keterangan dari Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, Mina Puadi awalnya hanya mengalami luka di bagian dahi. Namun, pemeriksaan medis yang lebih mendalam mengungkap adanya patah tulang rusuk dan pendarahan pada organ limpa. Tim medis RSUD Biak sempat melakukan operasi darurat pada Senin sore, 1 Juni 2026. Meskipun kondisi sempat stabil pascaoperasi, kondisinya kembali menurun drastis hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa pagi pukul 04.06 WIT.

Jenazah Mina Puadi, yang merupakan warga Kompleks Perikanan, Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, kemudian diberangkatkan menuju Kabupaten Kepulauan Yapen untuk dimakamkan oleh pihak keluarga. Prosesi pengantaran jenazah turut dihadiri oleh Lurah Fandoi, Frans Rumsarwir, serta Bupati Biak Numfor Markus Mansnembra bersama Penjabat Sekretaris Daerah Zacharias L Mailoa sebelum diberangkatkan ke Kepulauan Yapen.

Daftar Korban Jiwa dan yang Belum Ditemukan

Insiden ledakan bom ini menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat Biak Numfor. Hingga kini, tercatat enam korban jiwa akibat ledakan tersebut.

Daftar 6 Korban Tewas Akibat Ledakan Bom:

  • Moris Raubaba (24 tahun)
  • Delfin Raubaba (41 tahun)
  • Karmila Ayorbaba (25 tahun)
  • Isrel Raubaba (5 tahun)
  • Isra Raubaba (7 tahun)
  • Mina Puadi (51 tahun)

Selain korban tewas, masih ada tiga warga yang dilaporkan belum ditemukan pasca ledakan. Tim gabungan yang terdiri dari Kepolisian dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus berupaya melakukan pencarian.

Tiga Korban yang Masih Hilang:

  • Yulianus Raubaba (26 tahun)
  • Anes Marandof (27 tahun)
  • Lay Madura (45 tahun)

Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menyatakan bahwa fokus pencarian saat ini diarahkan pada area “ring dua,” khususnya wilayah pantai dan perairan di sekitar lokasi kejadian. Upaya pencarian akan terus dilakukan hingga ketiga korban yang belum ditemukan berhasil ditemukan.

Dampak Ledakan dan Upaya Pencarian Potongan Tubuh

Ledakan dahsyat yang mengguncang kawasan padat penduduk di sekitar Kompleks Pasar Ikan Biak pada Minggu, 31 Mei 2026, tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga menyisakan puing-puing yang tersebar. Akibat insiden ini, sebanyak 18 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Satu korban masih menjalani perawatan inap di RSUD Biak, sementara 16 lainnya menjalani rawat jalan dan terus dalam pemantauan medis.

Proses pencarian tidak hanya difokuskan pada korban yang hilang, tetapi juga pada serpihan atau potongan tubuh yang diduga milik korban. Tim SAR gabungan telah menemukan sejumlah serpihan tubuh di area “ring dua,” yang meliputi wilayah pantai dan perairan sekitar lokasi ledakan. Pada Senin, 1 Juni 2026, tim gabungan berhasil menemukan 13 serpihan atau potongan tubuh. Temuan ini kemudian dibawa ke RSUD Biak untuk proses identifikasi lebih lanjut. Keesokan harinya, tim Basarnas dan gabungan kembali menemukan lima potongan serpihan tubuh di area yang sama, yang juga segera dievakuasi untuk identifikasi.

Kronologi Ledakan yang Menggemparkan

Insiden ini bermula ketika ledakan keras mengguncang Kompleks Perikanan, Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, pada Minggu, 31 Mei 2026, sekitar pukul 14.45 WIT. Ledakan tersebut terekam dalam sebuah video amatir berdurasi 13 detik yang kemudian viral di media sosial. Dalam rekaman video tersebut, terlihat asap hitam pekat dan kobaran api membubung tinggi ke udara hingga lebih dari 6 meter. Kekuatan ledakan begitu dahsyat hingga puing-puing bangunan ikut terlempar.

Dugaan kuat menyebutkan bahwa ledakan ini dipicu oleh bom aktif peninggalan Perang Dunia II yang masih tersimpan di area tersebut. Dentuman bom yang sangat keras sontak memicu kepanikan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa ledakan terjadi secara tiba-tiba dan getarannya terasa hingga radius yang cukup jauh dari titik pusat ledakan. Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya laten sisa-sisa peperangan yang masih tersimpan di berbagai wilayah dan dapat kapan saja menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan masyarakat. Pemerintah daerah dan tim gabungan terus berupaya menangani dampak dari insiden ini, termasuk memastikan proses identifikasi korban dan pemulihan area terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page