Proyek Hilirisasi Sawit Rp1,88 Triliun Siap Menggoda Investor Global di Bontang
Pemerintah Kota Bontang berupaya keras memperkuat sektor hilirisasi sumber daya alam, salah satunya melalui pengembangan industri fatty amine dengan nilai investasi mencapai Rp1,88 triliun. Proyek ini ditawarkan sebagai peluang investasi unggulan melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO) kepada calon investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Muhammad Aspian Nur, menjelaskan bahwa pembangunan industri fatty amine ini merupakan langkah strategis untuk memperluas rantai nilai industri kelapa sawit nasional. Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan kimia industri yang selama ini masih dibutuhkan oleh berbagai sektor manufaktur dalam negeri.
“Proyek ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam. Selain meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, juga berpotensi mengurangi impor bahan baku kimia yang selama ini masih dibutuhkan industri dalam negeri,” ujar Aspian pada Selasa (2/6/2026).
Industri fatty amine ini direncanakan akan dibangun di Kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Lokasi ini menawarkan berbagai keunggulan kompetitif, meliputi kedekatan dengan pelabuhan yang memfasilitasi logistik, ketersediaan kawasan industri yang sudah mapan, pasokan energi yang memadai, serta akses yang mudah ke industri petrokimia yang telah berkembang pesat di Kota Bontang. Keunggulan geografis ini diperkuat dengan status Kalimantan Timur sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia, yang menjamin ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang.
Fatty amine sendiri merupakan produk turunan kelapa sawit dengan nilai tambah yang tinggi. Produk ini memiliki aplikasi luas di berbagai industri, mulai dari pembuatan deterjen, pelembut pakaian, kosmetik, produk pembersih rumah tangga, hingga bahan kimia khusus lainnya. Saat ini, kebutuhan fatty amine di Indonesia masih dipenuhi melalui impor, sementara permintaan global terus meningkat seiring dengan pertumbuhan industri konsumen dan manufaktur.
Proyek yang ditawarkan ini memiliki kapasitas produksi yang signifikan, yaitu 20 ribu ton fatty amine dan 4 ribu ton gliserol per tahun. Dari sisi kelayakan bisnis, proyek ini diproyeksikan mampu menghasilkan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 16,28 persen, dengan Net Present Value (NPV) mencapai Rp743 miliar. Periode pengembalian investasi atau payback period diperkirakan memakan waktu sekitar delapan tahun.
Lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, proyek ini juga dirancang dengan konsep industri berkelanjutan yang berorientasi pada prinsip ramah lingkungan. Kawasan pabrik akan dilengkapi dengan ruang terbuka hijau, pemanfaatan energi surya, penerapan prinsip green architecture, serta sistem smart building.
Kehadiran industri fatty amine ini diharapkan menjadi katalisator baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja baru, serta memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.
“Proyek ini tidak hanya mengejar investasi semata. Kehadirannya diharapkan membuka peluang ekspor baru, meningkatkan daya saing industri nasional, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah,” pungkas Aspian.
Modus Prostitusi Daring di Kutai Timur Dibongkar, Pelaku Ternyata Bukan Warga Lokal
Kepolisian Sektor (Polsek) Sangkulirang, Polres Kutai Timur, berhasil membongkar praktik prostitusi daring (online) yang meresahkan masyarakat. Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan warga yang memanfaatkan saluran komunikasi resmi kepolisian, yang kemudian ditindaklanjuti dengan cepat oleh petugas.
Operasi penangkapan dilakukan di sebuah penginapan di kawasan Desa Benua Baru Ilir, Kecamatan Sangkulirang, yang diduga kuat menjadi lokasi praktik prostitusi ilegal. Dalam operasi senyap tersebut, petugas berhasil mengamankan dua orang wanita yang berperan sebagai penyedia jasa prostitusi online.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kedua wanita tersebut bukanlah warga lokal, melainkan perantau yang berasal dari Sumatra Utara. Mereka diduga sengaja datang ke Kutai Timur untuk mencari penghasilan melalui praktik ilegal ini.
Kapolsek Sangkulirang, Iptu Erik Bastian, menjelaskan bahwa kedua terduga pelaku menggunakan strategi digital untuk menjaring pelanggan. Mereka menawarkan jasa melalui satu akun aplikasi percakapan digital bersama, dengan sistem pembayaran tunai yang dilakukan secara langsung setelah pertemuan.
“Transaksi dilakukan secara langsung setelah pertemuan dengan sistem pembayaran tunai,” ujar Iptu Erik Bastian pada Minggu (31/5/2026).
Dari lokasi kejadian, polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti yang memperkuat dugaan praktik prostitusi, di antaranya alat kontrasepsi, cairan pelumas, serta sejumlah uang tunai yang diduga merupakan hasil transaksi.
Sebelumnya, aktivitas ilegal ini disinyalir telah beroperasi secara berpindah-pindah di beberapa wilayah lain di Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan hasil interogasi, kedua wanita tersebut mengakui telah sempat menawarkan jasa serupa di lokasi yang berbeda.
Saat ini, kedua terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Markas Polsek Sangkulirang. Pihak kepolisian berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini, termasuk mendalami kemungkinan adanya keterlibatan jaringan atau muncikari yang mengendalikan mereka. Status hukum kedua wanita tersebut akan ditentukan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan dan pengumpulan alat bukti selesai dilakukan secara menyeluruh.
“Kami saat ini masih melaksanakan proses penyelidikan dan gelar perkara untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Semua proses dilakukan secara objektif berdasarkan alat bukti dan keterangan saksi yang ada,” tegas Iptu Erik Bastian.
Perbaikan Jalan Poros di Tiga Daerah Kaltim Dikebut, Pengendara Diminta Waspada
Akses logistik yang menghubungkan Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, hingga Kabupaten Kutai Barat di Kalimantan Timur menjadi prioritas perbaikan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur secara intensif memacu proyek preservasi pada ruas jalan poros Kota Bangun–Muara Leka–Muara Muntai guna menjamin kelancaran distribusi barang dan keselamatan pengguna jalan.
Sejumlah alat berat dan personel telah dikerahkan ke lokasi untuk menangani titik-titik kerusakan yang selama ini menjadi keluhan para sopir logistik dan masyarakat setempat. Pelaksana proyek, Tommy, menegaskan bahwa percepatan penanganan difokuskan pada titik-titik krusial yang mengalami kerusakan permukaan.
“Fokus kami saat ini adalah pembersihan lubang atau patching di sepanjang ruas tersebut. Ini langkah krusial untuk meminimalisir risiko kecelakaan, mengingat jalur ini adalah urat nadi logistik,” ujar Tommy pada Selasa (2/6/2026).
Perbaikan jalan ini tidak hanya sebatas menambal sulam. Pihaknya menerapkan standar rehabilitasi jalan yang ketat dengan menggunakan material aspal berkualitas tinggi, yaitu Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC) dan Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC). Penggunaan material ini bertujuan untuk meningkatkan daya cengkeram jalan (skid resistance) agar kendaraan tidak mudah tergelincir, terutama saat kondisi cuaca ekstrem.
“Kami ingin lapisan ini kedap air agar umur rencana jalan bisa bertahan lebih lama. Dengan beban kendaraan yang tinggi setiap hari, kualitas aspal harus benar-benar terjaga,” jelasnya.
Selain perbaikan badan jalan, pekerjaan juga mencakup peningkatan bahu jalan beton (rabat beton) dan sistem drainase di sisi kiri dan kanan jalan. Mengingat air menjadi musuh utama infrastruktur jalan, elevasi jalan harus sesuai standar dan desain yang telah disetujui, serta pembangunan saluran air dengan pasangan batu mortar terus dikebut agar air hujan tidak meluap ke badan jalan. Sektor jembatan di area SP2 juga masuk dalam daftar pemeliharaan berkala untuk menjaga stabilitas konektivitas antarwilayah.
Mengingat banyaknya aktivitas alat berat dan material di sepanjang jalur perbaikan, Tommy mengimbau seluruh pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan dan bersabar.
“Kami minta pengendara berhati-hati dan patuhi rambu-rambu yang ada di area proyek,” katanya. “Semua ini kami lakukan agar nantinya arus transportasi logistik maupun mobilitas warga di Kukar hingga Kubar bisa lebih lancar, aman, dan nyaman,” tandas Tommy.











