Literasi & Numerasi Rendah: Dikbud Malut Tingkatkan Kompetensi Guru

Upaya Pemprov Maluku Utara Tingkatkan Kualitas Pendidikan: Fokus pada Kompetensi Guru dan Sekolah Model

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), tengah gencar melaksanakan program strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan di wilayahnya. Fokus utama program ini adalah penguatan kompetensi para guru dan pengembangan sekolah model, yang secara spesifik menyasar Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Maluku Utara, Abubakar Abdullah, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian integral dari upaya jangka panjang untuk mengangkat standar pendidikan di provinsi tersebut. “Saat ini, program sekolah model dan pembinaan guru sedang berjalan aktif di lapangan,” ujar Abubakar Abdullah. Beliau merinci, “Ada sekitar 200 guru dari Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan yang kini tengah mengikuti program pembinaan intensif untuk mengasah dan memperkuat kompetensi mereka.”

Program ini dirancang untuk membekali para pendidik dengan keterampilan dan pengetahuan terkini, sehingga mereka dapat mentransfer ilmu secara efektif kepada para siswa. Dengan guru yang kompeten, diharapkan proses belajar mengajar menjadi lebih berkualitas dan mampu menjawab tantangan zaman.

Tantangan Literasi dan Numerasi: PR Besar Pendidikan Maluku Utara

Meskipun berbagai upaya tengah dilakukan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara mengakui adanya tantangan signifikan yang masih menghambat pencapaian kualitas pendidikan yang optimal. Salah satu isu krusial yang menjadi perhatian utama adalah rendahnya kemampuan literasi dan numerasi di kalangan siswa.

Abubakar Abdullah memaparkan, berdasarkan data Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), Maluku Utara memang telah mencapai angka 69. Namun, ketika ditelisik lebih dalam pada indikator-indikator kunci kualitas pendidikan, angka tersebut masih tergolong rendah. “Variabel kunci kita masih rendah, terutama literasi dan numerasi. Tingkat literasi siswa kita saat ini masih berada di angka 39, dan angka numerasi pun tidak jauh berbeda,” jelasnya.

Angka 39 ini menjadi sinyal bahwa sebagian besar siswa di Maluku Utara masih kesulitan dalam memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi tertulis (literasi), serta dalam menerapkan konsep matematika dan pemecahan masalah berbasis angka (numerasi). Padahal, kedua kemampuan ini merupakan fondasi penting bagi keberhasilan siswa dalam jenjang pendidikan selanjutnya maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator Kualitas Lainnya: Harapan di Tengah Keterbatasan

Di sisi lain, beberapa indikator kualitas pendidikan lainnya menunjukkan hasil yang lebih menggembirakan. Variabel seperti inklusivitas, kebinekaan, kualitas proses pembelajaran, dan keamanan lingkungan sekolah dinilai telah berhasil menembus angka 60. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemenuhan hak seluruh siswa untuk mendapatkan pendidikan tanpa diskriminasi, penciptaan lingkungan belajar yang beragam dan aman, serta peningkatan kualitas metode pengajaran telah menunjukkan progres yang positif.

Meskipun demikian, Dikbud Maluku Utara tetap memandang peningkatan kualitas pendidikan sebagai sebuah tanggung jawab besar yang memerlukan penanganan serius dan berkelanjutan. Perbaikan harus dilakukan secara bertahap dan sistematis untuk memastikan setiap aspek pendidikan dapat terus ditingkatkan.

Integrasi Tes Kompetensi Akademik (TKA) dan Posisi Nasional

Menghadapi tantangan yang ada, Pemprov Maluku Utara juga bersiap menghadapi perubahan dalam sistem evaluasi pendidikan. Abubakar Abdullah menjelaskan bahwa rujukan resmi untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu daerah saat ini masih mengacu pada rapor pendidikan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui asesmen nasional yang dilaksanakan setiap tahun.

Namun, mulai tahun 2026, pola asesmen ini akan mengalami integrasi dengan Tes Kompetensi Akademik (TKA). “Tahun 2026, pola asesmen akan diintegrasikan dengan TKA atau Tes Kompetensi Akademik. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi daerah,” ungkapnya.

Integrasi ini berarti bahwa evaluasi kualitas pendidikan akan semakin fokus pada kemampuan akademik siswa dalam mata pelajaran inti. Abubakar Abdullah mengakui bahwa hasil TKA Maluku Utara, baik di tingkat SMP maupun SMA, masih tergolong rendah. Berdasarkan evaluasi terakhir, Maluku Utara masih menduduki peringkat enam terbawah secara nasional dalam hal TKA.

TKA sendiri dirancang untuk mengukur kemampuan siswa dalam tiga mata pelajaran utama, yaitu matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. “Nilai kita masih rendah, rata-rata sekitar 40, dan posisi Maluku Utara masih berada di urutan enam terbawah,” tegas Abubakar Abdullah.

Menyikapi kondisi ini, Dikbud Maluku Utara menegaskan perlunya langkah-langkah yang lebih transformatif dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuannya jelas, agar kemampuan akademik siswa di Maluku Utara dapat bersaing secara sehat dan setara dengan siswa dari daerah lain di tingkat nasional. Peningkatan mutu guru, perbaikan kurikulum, dan inovasi metode pembelajaran menjadi kunci utama untuk mencapai target tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page