Fokus Pencarian Korban Ledakan Biak: Laut dan Pesisir

Tim SAR Gabungan Terus Berupaya Menemukan Tiga Korban Hilang Akibat Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Numfor

Upaya pencarian terhadap tiga orang yang masih dilaporkan hilang pasca ledakan bom sisa Perang Dunia II di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, terus digencarkan oleh tim gabungan. Operasi penyelamatan ini melibatkan berbagai elemen, termasuk personel TNI, Polri, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat.

Perluasan Area Pencarian ke Wilayah Perairan dan Pesisir

Saat ini, fokus utama tim SAR gabungan telah diperluas ke area “ring 2” yang mencakup wilayah perairan dan kawasan pantai di sekitar lokasi utama terjadinya ledakan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi di “ring 1”, area yang paling dekat dengan titik ledakan, yang dinilai masih sangat fluktuatif dan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan yang tinggi bagi para petugas maupun warga sipil.

Sterilisasi Area oleh Tim Penjinak Bom

Sementara tim SAR fokus pada pencarian korban, Tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Polda Papua juga terus melakukan penyisiran dan sterilisasi di area terdampak. Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa tidak ada lagi bahan peledak sisa perang yang dapat membahayakan masyarakat di kemudian hari.

Penemuan 13 Potongan Tubuh Mengindikasikan Ancaman Serius

Pada hari Senin, 1 Juni 2026, tim SAR gabungan berhasil menemukan 13 serpihan atau potongan tubuh yang diduga kuat merupakan bagian dari korban yang belum ditemukan. Penemuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dampak tragis dari ledakan tersebut.

Ke-13 potongan tubuh tersebut ditemukan di area “ring 2”, yang menunjukkan bahwa serpihan material dan korban mungkin telah tersebar cukup luas akibat kekuatan ledakan. Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, dalam konferensi pers di Posko Basarnas Biak pada Senin malam, menyatakan, “Tim gabungan terus melakukan penyisiran dan evakuasi korban yang belum ditemukan. Hari ini, dengan dibantu penuh oleh personel Basarnas, kami menemukan 13 serpihan atau potongan bagian tubuh korban di area ring dua.”

Seluruh temuan tersebut segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Biak Numfor untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut. Upaya identifikasi ini sangat penting untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban dan melengkapi data resmi mengenai korban jiwa dalam insiden ini.

Dampak Kemanusiaan: Lima Meninggal, Belasan Luka, dan Ratusan Mengungsi

Peristiwa ledakan bom sisa Perang Dunia II ini telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Hingga Senin (1/6/2026) pagi, tercatat lima orang meninggal dunia. Kelima korban tersebut adalah:

  1. Moris Raubaba (24): Seorang nelayan yang merupakan warga setempat.
  2. Delfin Raubaba (41): Nelayan lain yang juga warga setempat.
  3. Karmila Ayorbaba (25): Seorang ibu rumah tangga yang tinggal di lokasi kejadian.
  4. Isrel Raubaba (5 tahun): Seorang anak yang menjadi korban saat berada di rumahnya.
  5. Isra Raubaba (7 tahun): Seorang pelajar yang juga menjadi korban di kediamannya.

Selain korban meninggal, sebanyak 18 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Dua di antara mereka memerlukan perawatan intensif di RSUD Biak karena kondisi luka yang serius. Kejadian ini juga memaksa 56 warga untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi demi keselamatan.

Ledakan dahsyat yang berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II ini terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026, sore di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi. Seluruh jenazah korban yang telah teridentifikasi telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sorido, Distrik Biak Kota, sebagai bentuk penghormatan terakhir dan untuk memberikan tempat peristirahatan yang tenang bagi mereka yang telah tiada. Insiden ini menjadi pengingat akan bahaya laten sisa-sisa perang yang masih tersimpan di berbagai wilayah dan perlunya kewaspadaan serta tindakan pencegahan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page