Opini  

Ilmu Membawa Takwa

Perjalanan Intelektual: Dari Kesombongan Menuju Kesadaran Diri

Dalam khazanah kebijaksanaan Arab, terdapat sebuah ungkapan yang sarat makna, menggambarkan sebuah perjalanan panjang seorang pencari ilmu: “Ilmu itu tiga jengkal. Barang siapa baru mempelajari satu jengkal, ia menjadi sombong. Barang siapa mempelajari dua jengkal, ia menjadi rendah hati. Dan barang siapa mempelajari tiga jengkal, ia menyadari bahwa dirinya belum mempelajari apa pun.” Ungkapan ini bukan sekadar ukuran kuantitatif dari pengetahuan, melainkan sebuah peta perubahan sikap dan mentalitas yang dialami seseorang seiring bertambahnya pemahaman.

Fenomena yang sering kita saksikan adalah bagaimana pengetahuan yang sedikit justru dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang berlebihan. Seseorang yang baru saja menggenggam segelintir informasi cenderung merasa telah menguasai segalanya. Ia mudah menghakimi orang lain, gemar terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif, dan selalu berupaya menampilkan diri sebagai yang paling benar. Pandangannya terhadap dunia seringkali sempit, seolah hanya dari sebuah jendela kecil, namun ia meyakini telah melihat seluruh cakrawala. Inilah gambaran dari tahap pertama dalam ungkapan tersebut, di mana satu jengkal ilmu justru melahirkan kesombongan. Kesombongan ini bukan buah dari kekayaan ilmu, melainkan dari ketidaktahuan akan betapa luasnya lautan pengetahuan yang belum terjamah. Pepatah lokal pun mengingatkan, “Tong kosong nyaring bunyinya,” yang menyiratkan bahwa sesuatu yang tidak berisi justru seringkali mengeluarkan suara paling keras.

Namun, perjalanan intelektual tidak berhenti di titik itu. Ketika seorang individu mulai melangkah lebih jauh, ia akan menemukan perubahan signifikan dalam cara pandangnya. Membaca lebih banyak buku, berdiskusi dengan beragam orang, dan terpapar pada berbagai perspektif akan membuka matanya terhadap kompleksitas dunia. Ia mulai menyadari bahwa setiap persoalan memiliki dimensi yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Kesadaran ini secara alami akan menumbuhkan kerendahan hati. Sikap menghakimi yang berlebihan berkurang, kesimpulan terburu-buru dihindari, dan kemauan untuk mendengar menjadi lebih dominan daripada keinginan untuk berbicara. Inilah makna dari tahap kedua, di mana dua jengkal ilmu membawa seseorang pada kerendahan hati. Karakteristik ini sejalan dengan peribahasa “ilmu padi,” yang semakin berisi semakin merunduk.

Tahap paling mendalam dalam perjalanan ini dicapai ketika seseorang telah menempuh perjalanan ilmu yang panjang dan kaya. Ia mungkin telah banyak membaca, melakukan penelitian, mengajar, dan terlibat dalam dialog yang tak terhitung jumlahnya. Namun, justru pada titik inilah ia mengalami kesadaran tertinggi: bahwa apa yang telah ia kuasai hanyalah setetes air di tengah samudra ilmu Allah Swt. Pengakuan atas keterbatasan diri ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari kebijaksanaan.

Puncak Kebijaksanaan dan Pengakuan Keterbatasan

Sejarah mencatat banyak tokoh besar yang menunjukkan integritas ilmiah mereka bukan dengan jawaban yang melimpah, melainkan dengan keberanian untuk mengakui ketidaktahuan. Imam Malik, seorang ulama terkemuka, pernah dihadapkan pada empat puluh pertanyaan. Beliau hanya menjawab empat atau delapan pertanyaan, sementara sisanya dijawab dengan “Lā adrī” (Saya tidak tahu). Bagi para cendekiawan sejati, mengakui batas pengetahuan adalah sebuah pencapaian, bukan kegagalan.

Bahkan kitab suci Al-Qur’an sendiri telah mengingatkan kita tentang keterbatasan pengetahuan manusia:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Ayat ini menekankan bahwa sehebat apapun pencapaian intelektual manusia, ia tetaplah terbatas jika dibandingkan dengan ilmu Allah yang tak bertepi.

Di era digital seperti sekarang, pesan ini menjadi semakin relevan. Kemudahan akses informasi melalui internet seringkali menimbulkan ilusi keahlian. Seseorang mungkin merasa dirinya seorang ahli hanya karena telah membaca beberapa artikel atau menonton beberapa video. Padahal, informasi berbeda dengan ilmu, dan ilmu berbeda pula dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan lahir ketika ilmu telah meresap ke dalam karakter, menumbuhkan kerendahan hati, dan memotivasi seseorang untuk terus belajar tanpa henti.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukanlah sekadar jumlah gelar yang diraih, banyaknya buku yang dibaca, atau seberapa sering pendapat kita diikuti orang lain. Ukuran yang lebih fundamental adalah apakah ilmu yang kita miliki telah membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih bijaksana, dan lebih sadar akan keterbatasan diri kita sendiri.

Semakin seseorang mendekati hakikat ilmu yang sebenarnya, semakin jauh ia terhindar dari jurang kesombongan. Hal ini karena ia memahami prinsip dasar bahwa di atas setiap orang yang berilmu, selalu ada yang lebih berilmu. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

Perjalanan menuntut ilmu pada hakikatnya bukan hanya tentang mengisi akal dengan berbagai pengetahuan, melainkan juga sebuah perjalanan untuk menundukkan ego. Seseorang yang benar-benar berilmu bukanlah ia yang merasa telah mencapai puncak, melainkan ia yang terus melangkah dengan penuh kerendahan hati. Ia senantiasa menyadari bahwa semakin luas pengetahuan yang ia genggam, semakin luas pula samudra ilmu yang belum ia ketahui. Puncak dari ilmu bukanlah kesombongan, melainkan kerendahan hati (tawadhu’). Dan puncak dari kebijaksanaan adalah kesadaran mendalam bahwa proses belajar adalah sebuah perjalanan seumur hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page