Teamlibas BANTAN SARI – Seorang tokoh masyarakat dari Pandan, Desa Bantan Sari, menyatakan penolakan tegas terhadap pembangunan kolam udang di wilayah pesisir desa tersebut.
Menurutnya, meskipun pembangunan tambak udang berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan pihak pengelola, namun risiko lingkungan yang ditimbulkan dinilai jauh lebih besar.
“Kalau kolam udang itu memang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, itu kami akui. Tapi dampak abrasi pantai tidak bisa dielakkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa lokasi pembangunan yang terlalu dekat dengan garis pantai dan menghadap langsung ke Selat Melaka memperparah risiko abrasi. Apalagi, vegetasi alami seperti pohon-pohon penahan abrasi telah ditebang.
“Dalam satu tahun saja abrasi bisa mencapai 10 sampai 20 meter saat masih ada pohon. Sekarang pohon sudah ditebang, tentu dampaknya akan lebih parah,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, ia bersama masyarakat menyatakan sikap tegas menolak pembangunan tambak tersebut.
“Kami sebagai masyarakat benar-benar tidak setuju. Kami minta pihak berwenang untuk meninjau ulang dan mencabut izin pembangunan itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan potensi dampak jangka panjang yang dapat terjadi, seperti rusaknya infrastruktur dan meningkatnya risiko banjir.
“Ke depan bisa saja jalan terputus, air laut masuk ke kampung dan kebun. Daerah ini memang rawan banjir. Apalagi tanah digali dan pohon ditebang, saat musim utara dan barat gelombang sangat kuat. Air asin dan air darat bisa langsung menerobos,” ungkapnya.
Ia khawatir kondisi tersebut akan menyebabkan kerusakan serius di desa jika pembangunan tetap dilanjutkan.
Sebagai penutup, ia berharap pemerintah dan pihak pemberi izin turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi nyata di lapangan.
“Harapan kami, izin itu ditinjau ulang. Datang langsung ke lokasi, dengar suara masyarakat, dan batalkan pembangunan tersebut,” pungkasnya.(Tengku)
Tokoh Masyarakat Tolak Pembangunan Kolam Udang di Desa Bantan Sari, Khawatirkan Abrasi dan Banjir













