local  

Tim Walikota Bantah Longsoran Baru Terowongan Samarinda

Klarifikasi Longsoran Terowongan Samarinda: Keamanan dan Progres Pembangunan

Isu mengenai adanya longsoran baru di proyek terowongan sisi Jalan Sultan Alimuddin, Kelurahan Sambutan, Kota Samarinda, yang beredar di media sosial, telah dibantah secara tegas oleh Tim Walikota Samarinda untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP). Ketua TWAP Kota Samarinda, Syaparuddin, bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Minggu, 31 Mei 2026, untuk memverifikasi kondisi aktual tebing dan struktur terowongan.

Syaparuddin menjelaskan bahwa peninjauan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi tebing di bagian puncak yang sebelumnya diisukan mengalami pergerakan tanah baru. “Kami melihat secara langsung, sama sekali tidak ada longsor baru. Itu adalah bekas longsor 12 Mei 2025 yang lalu,” tegasnya. Hasil peninjauan tersebut mengkonfirmasi bahwa kondisi terowongan sangat kokoh dan kuat.

Saat ini, seluruh pihak terkait tengah menantikan proses pengujian teknis yang akan dilakukan oleh tim dari Kementerian PUPR Pusat. Pengujian ini merupakan langkah krusial sebelum terowongan tersebut dinyatakan laik pakai dan dapat difungsikan untuk masyarakat umum. Syaparuddin juga menanggapi kekhawatiran mengenai potensi material longsoran yang jatuh ke area terowongan. Ia memaparkan bahwa jarak antara ujung tebing dengan muka kanopi terowongan mencapai 72 meter, sebuah jarak yang dinilai sangat aman dari ancaman material runtuhan. “Kita harus sabar menunggu dari keputusan tim penguji untuk memastikan terowongan ini layak fungsi bagi warga,” ujarnya, seraya berharap proses tersebut dapat segera tuntas agar terowongan dapat segera dinikmati oleh warga Samarinda. “Jadi posisinya sangat aman. Kita sudah menyaksikan, sudah melihat langsung, dan sekali lagi tidak ada tanda-tanda longsor baru,” pungkasnya.

Sebelumnya, Dinas PUPR Kota Samarinda juga telah memberikan konfirmasi mengenai kondisi terowongan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda, Rezky Samudra Aprilyan, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kondisi terkini.

“Kalau kita lihat, kayaknya kan ini bukan longsoran baru, ini longsoran yang kemarin juga yang sudah terklarifikasi lah. Mungkin yang reruntuhan yang timbul mungkin peruntuhan di permukaan sisa-sisa yang kemarin,” ujar Rezky pada Jumat, 29 Mei 2026. Ia mengklarifikasi bahwa titik longsor yang ada hanya berada di satu lokasi yang sama.

Rezky menambahkan bahwa longsoran awal berasal dari luar batas Right of Entry (ROE) proyek yang pada saat itu belum dibebaskan. Kini, lahan tersebut telah masuk dalam area yang dibebaskan, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan lebih leluasa.

Rencana Penanganan dan Kendala Anggaran

Terkait rencana penanganan longsoran, Rezky membenarkan bahwa desain teknis untuk mengatasi masalah tersebut telah disiapkan. “Harus ditangani, dan desain juga sudah ada sih, desainnya untuk penanganan itu, mungkin akan dipapas di atas itu,” katanya.

Namun, ia mengakui bahwa penanganan tersebut belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Kendala utama yang dihadapi adalah ketersediaan anggaran, mengingat situasi fiskal yang sedang dievaluasi secara cermat. “Iya anggaran sih, karena kita masih melihat juga di situasi yang seperti ini kan,” ungkapnya. Rezky memperkirakan pengerjaan penanganan longsoran baru dapat dilakukan pada tahun depan.

Meskipun demikian, ia menekankan bahwa kondisi longsoran tersebut tidak berdampak signifikan terhadap fungsi terowongan. Rezky menjelaskan bahwa mulut terowongan telah dilengkapi dengan penanganan khusus dan berjarak jauh dari titik longsor. Selain itu, bagian bawah terowongan juga telah diperkuat dengan struktur tambahan.

Skema penanganan yang akan diterapkan adalah regrading atau pemangkasan lereng agar kemiringannya menjadi lebih landai. “Ya, paling kalau istilahnya regrading atau dipangkas lagi lah dan terus jadi lebih landai, kan itu juga udah kami bebaskan jadi sekarang punya area yang lebih luas,” jelasnya. Dengan area lahan yang kini sudah dibebaskan, tersedia ruang yang cukup untuk melakukan pemangkasan lereng.

Proses regrading ini nantinya juga akan mencakup penimbunan di sekitar lima meter di atas terowongan. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa longsoran yang ada tidak akan berdampak signifikan karena area tersebut akan dilakukan penimbunan.

Proses Pengujian Terowongan dan Fokus Utama

Saat ini, rencana pengujian struktur terowongan masih terus dimatangkan. Dalam proses uji tersebut, kondisi longsoran di lereng akan menjadi salah satu indikator yang dinilai. Namun, Rezky menekankan bahwa fokus utama pengujian tetap pada kondisi bagian dalam terowongan itu sendiri.

“Yang paling penting adalah deformasi di dalam dalam terowongannya itu yang lebih utama. Kalau di dalamnya ada pergerakan,” pungkasnya. Hal ini menunjukkan bahwa prioritas utama adalah memastikan integritas struktural terowongan dari dalam, yang merupakan elemen krusial untuk keselamatan dan fungsionalitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page